28/08/16

Modul Hidroponik

Modul Hidroponik paling sederhana adalah pot yang dibuat menggunakan botol bekas kemasan air minum. 


Setingkat di atasnya adalah aplikasi sistem rakit apung menggunakan Kit Hidroponik, box gabus bekas kemasan buah import atau keranjang plastik. Ada juga modul Dutch Bucket yang menggunakan ember bekas cat atau es rkim ukuran 8 liter.
 
Box Gabus Bekas Kemasan Buah


Keranjang Plastik

Dutch Bucket

Apapun bahan yang digunakan sebagai modul, semua memiliki fungsi sama, sebagai tempat untuk meletakkan pot Hidroponik dan wadah nutrisi.

Modul jenis apa yang sebaiknya digunakan, tergantung pada sistem Hidroponik yang akan diaplikasikan. Pot sederhana dari botol bekas, Kit Hidroponik dan Box gabus cocok untuk Hidroponik Statis. Nutrisi hanya tergenang saja, tidak disirkulasi. Sementara modul gully digunakan untuk Hidroponik Deep Flow Technique atau Nutrient Film Technique.






06/08/16

Petani Cap Tukang Ledeng

Meskipun lahan yang saya garap lebih kecil dibanding lapangan batminton, akhirnya keinginan saya jadi petani terwujud. Tapi jangan tanya penghasilan saya dari bercocok-tanam.

Alasan pertama, saya petani pemula, sampai hari ini lebih banyak panen hama ketimbang sayuran.

Alasan kedua, seandainya, seandainya lho ya, saya punya penghasilan gede, sudah pasti tidak akan saya pamerkan di sini atau di manapun. Saya tidak takut disatroni maling atau rampok. Saya lebih ngeri pada tukang pajak.


Jadi petani itu asyik. Paling tidak, itulah yang saya rasakan sampai sekarang. Tiap pagi ngurus tanaman, dilanjut malam - karena siang cari rejeki di tempat lain supaya ada duit untuk setor pajak UKM. Lalu, setelah sekian hari berbunga-bunga melihat tanaman tumbuh subur dan sehat, esok paginya mendadak mendapati tanaman babak belur dikeroyok hama. Sebenarnya pengin marah, tapi ke siapa? Jadi, ketimbang dapat penyakit, mending dibawa seneng saja.

Dulu, sesaat setelah nemu nama untuk bisnis rental mobil, pertama-kali yang saya lakukan adalah pesan kartu nama. Sekarang demam identitas itu kambuh lagi. Bedanya, bukan pengin bikin kartu nama, melainkan pengin punya foto dengan atribut petani.

Masalahnya, petani Hidroponik tidak sama dengan petani sawah. Saya tidak punya caping, dan tidak mainan cangkul. Jadi, ketika saya difoto dengan kostum T-shirt dan celana jean sambil pegang arit, blas gak mirip petani, malah seperti tukan kebon.

Foto berikutnya seperti yang saya pasang di postingan ini. Nampang sambil memawa perlengkapan petani Hidroponik, bor, tang dan pipa paralon, tapi malah terlihat seperti tukang ledeng.

04/08/16

Menjadi Petani

Ada yang bilang, hanya orang gila yang pengin jadi petani dengan modal pekarangan rumah selebar meja makan. Untungnya pekarangan saya lebih sempit, jadi saya tidak termasuk gila.

Saya memilih Hidroponik karena tidak perlu capek nyangkul dan nyiram. Saya pikir cocok dengan karakter pemalas saya. Ternyata jauh panggang dari api. THidroponik juga ribet, oleh sebab itu saya sempat punya niat berhenti.


Tapi komunitasnya yang selalu rame, serunya njarah panenan teman, dan bunyi nyaring duit receh ketika semaian dibeli orang, membuat saya lama-lama jadi ketagihan.

Salah satu aktifitas yang paling saya suka adalah mbolang - klayapan bareng ala praktisi Hidroponik. Pada saat ketemuan semua berbaur, cekakakan bareng, Tidak ada lagi kasta senior dan yunior. Aktifitas seperti itu cocok sebagai sarana melepas jenuh.

Dengan lahan sak ndulit, semula saya memang tidak berharap terlalu banyak untuk masuk sektor komersial. Target awal saya cuma mencari sarana refreshing. Tapi setelah babak belur, tanaman dihajar hama dan dieker-eker kucing, saya justru melihat banyak peluang yang bisa dimanfaatkan.

Sekarang lahan sak ndulit itu sudah berkembang, menjadi lebih luas dibanding meja makan. Tapi jangan beranggapan melarnya lahan itu akibat saya sukses jualan sayuran. Saya cuma mengalihkan duit yang biasanya untuk bayar dokter dan nebus obat menjadi gubug sayuran.

nGurus tanaman sambil direcoki kucing dan mendengarkan musik ternyata membuat badan terasa lebih enteng ketimbang saat masih nenggak segenggam obat tiga kali sehari. 

01/08/16

Membuat Modul dari Box Kemasan Buah

Teknik sumbu menggunakan botol bekas kemasan air minum ternyata ribet. Kalau hanya ada dua atau tiga botol, pekerjaan rutin cek dan nambah nutrisi serta mengaduk larutan setiap hari bisa jadi asyik. Tapi kalau jumlah botol sudah belasan atau malah puluhan, urusannya menjadi berbeda.

Ada banyak cara untuk membuat rutinitas yang boros waktu dan tenaga itu menjadi lebih praktis. Salah satu yang paling gampang dikejakan dan tetap hemat biaya adalah menggunakan kotak gabus bekas kemasan buah sebagai pengganti botol.


 Box gabus berfungsi sebagai penyangga pot dan wadah nutrisi. menggantikan potongan botol bagian bawah. Sedangkan pot, media tanam dan sumbu tetap sama.

Satu box bisa menampung 6 sampai 20 titik tanam sekaligus, tergantung ukuran box, dan umur serta jenis tanamannya.

Alat dan bahan yang diperlukan:
  1. Box gabus
  2. Lembaran plastik sebagai bahan pelapis bagian dalam box. Bisa menggunakan plastik bening maupun plastik hitam. Warna hitam mengurangi intensitas sinar matahari yang menembus dinding box, sehingga larutan nutrisi tidak gampang berlumut, tapi plastik hitam cenderung lebih cepat rusak dibanding plastik bening. Karena tidak yakin plastik hitam benar-benar inert - tidak bereaksi secara kimia dengan larutan nutrisi, saya lebih suka menggunakan plastik bening, sementara istri saya lebih memilih plastik hitam. Dan ternyata, sejauh pengamatan kami, secata visual tidak terlihat perbedaan pada pertumbuhan tanaman.
  3. Pita perekat.
  4. Alat potong plastik dan holesaw untuk membuat lubang tempat dudukan pot. Ukuran holesaw disesuaikan dengan ukuran pot yang dipakai.   

Urutan membuat modul tanam gabus:

  1. Pisahkan tutup atas gabus dengan bagian bawah.
  2. Pasang plastik serapi mungkin pada seluruh sisi dalam kotak bagian bawah. Rekatkan pada gabus menggunakan pita perekat.

  3. Buat lubang pada tutup gabus menggunakan holesaw. Saya mengambil jarak antar pusat lubang sejauh 10 cm, supaya modul bisa secara maksimal digunakan untuk tanaman berdaun lebar maupun tanaman yang tumbuh keatas.
  4. Setelah modul siap, isikan larutan nutrisi ke kotak bawah yang sudah diberi lapisan plastik sampai setengah kapasitas volumenya. Kemudian, letakkan tutup yang sudah ada lubangnya, numpang di kotak bawah secara terbalik, bagian dalam tutup menghadap ke atas. Tujuannya, untuk mengurangi jarak antara dasar pot dengan permukaan larutan nutrisi.

  5. Letakkan netpot atau gelas plastik yang sudah diberi media tanam dan sumbu pada masing-masing lubang.

Bila yang ditanam adalah tanaman yang tumbuh keatas, seperti bawang merah atau kangkung, seluruh lubang bisa digunakan sampai panen. Tapi untuk tanaman berdaun lebar seperti sawi atau selada, yang membutuhkan ruang tumbuh lebih luas, titik tanam dibuat berselang satu lubang.

Supaya sinar matahari tidak menerobos masuk melalui lubang yang tidak terpakai, lubang ditutup dengan net pot atau gelas plastik berisi potongan lubang gabus.


Perawatan modul gabus sama seperti perawatan pot botol, setiap hari nutrisi harus diperiksa volume, TDS dan pHnya serta diobok-obok supaya kadar oksigen terlarut tetap terjaga.


Kangkung Hidroponik


Kangkung Hidroponik keranjang, tanpa media tanam.
Ukuran keranjang : 30 x 40 cm
Populasi benih : 8 gram (kurang lebih 200 benih)
Umur panen : 21 hari setelah semai


Kangkung Hidroponik media tanam kapas saringan air aquarium
Teknik rakit apung dengan sumbu
Populasi per netpot : 8 benih