23/01/16

Air Baku

Air merupakan komponen vital dalam teknik Hidroponik. Air diperlukan sebagai pelarut sekaligus media distribusi nutrisi.

Karena tujuan Hidroponik adalah menyediakan nutrisi dalam jumlah dan dosis sesuai kebutuhan tanaman, maka semestinya air sebagai pelarut nutrisi tidak boleh mengandung material yang dapat mengganggu rasio maupun kadar unsur hara yang terkandung dalam nutrisi, maupun mengandung patogen yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Menurut beberapa literatur yang sempat saya intip, secara umum kualitas air dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompoh “Hard Water” dan kelompok “Soft Water”.

“Hard water” adalah air dengan kandungan mineral tinggi, kebanyakan terdiri dari Magnesium, Kalcium Karbonat, Bikarbonat, atau Kalsium Sulfat. Secara kasat mata “Hard Water” bisa ditengarai pada endapan putih yang melekat di permukaan benda yang dicuci menggunakan “Hard Water”. Air jenis ini bersifat alkali, dan memiliki pH tinggi.

Ca dan Mg sebenarnya merupakan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman,  namun kehadiran dua unsur itu dalam kadar tinggi justru punya potensi mengganggu rasio larutan nutrisi yang sudah diatur sebelumnya. Dampak selanjutnya, dapat mengganggu kelancaran proses penyerapan ion lain.
 
“Soft Water” adalah kualitas air dengan kandungan mineral rendah, tapi di banyak tempat seringkali sulit diperoleh secara alami.

Air baku yang dibutuhkan oleh Hidroponik bukan sekedar “Soft Water”, namun masih terdapat beberapa syarat lain yang harus dipenuhi, diantaranya, setelah menjadi larutan nutrisi  rentang pHnya berkisar antara 5,5 sampai 6,5; dan suhu larutan berkisar antara 18 sampai 26 derajad celcius. 

Lalu bagaimana seandainya air di sekitar kita TDSnya lebih dari 150 ppm, dengan pH di atas 7? Mestinya harus diolah terlebih dahulu supaya kualitasnya sesuai standard Hidroponik.

Masalahnya, tidak semua praktisi, terutama pemula macam saya, mampu menyediakan perangkat pengolah air.

Dengan TDS air baku paling rendah 213 ppm, kadang 280 dan pernah beberapa kali sampai 330 ppm, temperatur selalu lebih dari 28 derajad, dan setelah menjadi larutan nutrisi, pHnya tidak pernah kurang dari 7,3, saya tidak punya pilihan lain kecuali nekad.

Sampai 3 kali panen, ternyata hasil kebon saya selalu lebih bagus dibanding sayuran konvensional yang saya beli di supermarket. Lebih segar, lebih renyah dan tidak cepat layu meskipun tidak disimpan di lemari pendingin.






Masalah baru muncul setelah masuk musim kemarau. Tanaman gampang layu, warna akar berubah menjadi coklat, dan terjadi endapan di dasar gully. Sampai 6 bulan berikutnya kondisi menjadi semakin buruk, bahkan akhirnya saya sempat berhenti menanam di instalasi gully.

Tapi saya mendapati kondisi berbeda pada tanaman yang tumbuh di box sterofoam. Tidak ada endapan di dasar box, akar tetap putih bersih dan tanaman hanya layu saat suhu udara di bawah naungan lebh dari 40 derajad, lalu menjadi segar kembali setelah temperatur turun.

Karena menggunakan merek nutrisi dan kualitas air baku sama, saya dengan mudah bisa menebak bahwa perbedaan kondisi itu disebabkan oleh perbedaan temperatur larutan nutrisi. Suhu di gully berkisar antara 30 sampai 34 derajad, sementara di box paling tinggi hanya 27 derajad.

Berdasar pengalaman itu, dan hasil berbagi pengalaman dengan praktisi lain, saya berani mengambil kesimpulan, untuk Hidroponik skala hobby dan rumahtangga, air dengan TDS tinggi dalam kondisi tertentu masih bisa digunakan sebagai air baku Hidroponik tanpa harus diolah terlebih dahulu.

Seandainya suhu lingkungan cukup tinggi, gunakan modul dengan bahan isolator panas seperti sterofoam. Atau, bila tidak ada, usahakan agar nutrisi mengalir, dan setiapkali selesai panen modul dibersihkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar