12/12/16

Kangkung Hidroponik Tanpa Media Tanam

Menurut kebanyakan pemula, dibanding sayuran Hidroponik lain, kangkung paling gampang ditanam.

Saya tulis “menurut kebanyakan pemula”, karena dua tahun setelah menjadi praktisi Hidroponik, saya justru gagal saat pertama kali menyemai kangkung.

Ada beberapa cara untuk menanam kangkung Hidroponik tanpa media tanam, diantaranya menggunakan box gabus bekas kemasan buah atau keranjang berlubang-lubang kecil yang diletakkan di atas nampan.



Saya lebih suka menggunakan keranjang, karena menurut saya lebih praktis.  Saya gunakan wadah dengan penampang persegi semata-mata karena hanya itu propeti dapur yang bisa saya pinjam. Jadi, bentuk tidak mengikat. Bisa juga menggunakan keranjang dengan penampang berbentuk lingkaran. Yang penting ada wadah untuk nutrisi dan wadah tempat kangkung tumbuh.



Perlengkapan yang diperlukan: Keranjang berlubang dan nampan tinggi.


Berikut ini urutan kerjanya:

  1. Siapkan benih kangkungnya. Dari pengalaman beberapa kali menanam saya mendapatkan jumlah populasi benih yang paling pas untuk keranjang ukuran 30 x 40 cm adalah sekitar satu sendok makan. Untuk wadah ukuran lain silahkan dikira-kira sendiri. Caranya, tebar benih sedikit demi sedikit, supaya tidak ada yang tumpang tindih, sampai kira-kira menutup 1/3 dasar keranjang. Pada saat menakar populasi benih, pastikan keranjang masih dalam kondisi kering, supaya kelebihan benih yang terlanjur dituang bisa diambil dan disimpan kembali   
  1. Masukkan benih terpilih ke dalam cawan berisi air hangat. Rendam selama beberapa jam, supaya lebih cepat bertunas. Benih yang terapung langsung disingkirkan. Bila jumlah yang terapung cukup signifikan, sebaiknya benih yang dibuang diganti dengan yang baru, supaya populasinya tidak berkurang.
  1. Berhubung saya harus menyesuaikan jam semai dengan jadwal aktifitas harian, saya mulai merendam jam 22.00, lalu benih disemai setelah subuh. Semai pagi juga memudahkan kita dalam menghitung umur tanaman menggunakan “hari setelah semai” atau hss.  

  2. Letakkan keranjang di  nampan, lalu tuang air tawar sampai permukaan air menyentuh dasar keranjang. Tebar seluruh benih secara merata di dasar keranjang. Seandainya ada banyak benih yang nyeplos, jatuh ke nampan, berarti lubang keranjang terlalu besar. Tidak perlu ganti keranjang. Ambil seluruh benih di keranjang, lalu bentangkan lembaran tisu di dasar keranjang. Setelah itu benih ditebar kembali di atas tisu.

  1. Beberapa senior menyarankan supaya benih yang sudah ditebar dihindarkan dari cahaya terang sampai 24 jam sejak disemai. Bisa dengan cara menyimpan nampan di tempat gelap, atau membungkus dengan plastik hitam. Ketimbang kualat, sebaiknya diikuti saja. Seandainya punya niat tidak mau nurut, cobalah setelah dua atau tiga kali menanam, sambil diamati bedanya.
  1. Pagi berikutnya, atau 1 hari setelah semai (1 hss), sebagian besar benih sudah berkecambah. Yang telat dibiarkan saja, nanti akan segera menyusul. Nampan dipindah, diletakkan di tempat terang tapi teduh - artinya tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Kalau sebelumnya nampan dibungkus, jangan lupa bungkus dibuka.

  1. Bila daun mulai terlihat, pertanda proses fotosintesis sudah mulai berlangsung, berarti tanaman sudah membutuhkan sinar matahari. Nampan harus dipindah lagi ke tempat yang terpapar sinar matahari secara langsung. Karena sinar matahari membuat air dalam nampan menjadi hangat, maka supaya suhu air tidak terlalu tinggi, sehingga mengganggu pertumbuhan bibit, setelah jam 12 siang nampan dipindah lagi ke tempat teduh. Tidak perlu kuatir ribet, acara pindah-pindah ini hanya berlangsung sekitar 2- 3 hari, sampai daun tumbuh lebih banyak dan mampu menghalangi sinar matahari mengenai larutan nutrisi.


  2. Ketika sebagian populasi mulai tumbuh daun, air di nampan diganti nutrisi abmix daun dengan konsentrasi 500 ppm. Kalau belum punya TDS meter bisa menggunakan perbandingan 5 cc pekatan A dan 5 cc pekatan B dilarutkan dalam 2 liter air. (petunjuk melarutkan nutrisi bisa dibaca di sini).
  1. Setelah daun mulai terlihat, kita  harus lebih sering cek volume dan konsentrasi nutrisi. Paling tidak sekali sehari, untuk memastikan volume nutrisi tidak banyak berkurang dan konsentrasi larutan sesuai dengan takaran yang dibutuhkan oleh tanaman. Selain itu, larutan nutrisi harus sering diobok-obok, untuk memperbaiki kadar oksigen terlarut.
  1. Konsentrasi nutrisi ditambah secara berkala dengan jadwal sebagai berikut :
    1. sejak terlihat daun sampai dengan 7 hss konsentrasi nutrisi 500 ppm
    2. 7 hss sampai dengan 14 hss konsentrasi ditambah menjadi 750 ppm
    3. lebih dari 14 hss konsentrasi naik menjadi 1.000 sampai 1.250 ppm
Gampang bukan? Lalu mengapa dulu saya pernah gagal? Karena saya mengerjakan sambil lalu.

Segampang-gampangnya bercocok-tanam, kita harus merawat tanaman dengan sepenuh hati.

Selamat menanam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar